Pages

WELCOME

Tanah Air Burung Elang

Kamis, 16 Agustus 2012

Naik Kelas


Seseorang pernah berkata pada saya,
“Ada kalimat menarik ketika saya baru tiba di Mesir untuk melanjutkan studi S1 saya. katanya, selamat untuk kalian telah sampai di jenjang ini. Tapi jangan senang dulu, ada yang ikut bersama kalian. Wujudnya halus tidak terlihat tapi kerjanya nyata tidak diragukan. Dia adalah setan. Setan yang dulu bersama kalian sejak Sekolah Dasar sekarang sudah naik tingkat ke jenjang Universitas. Setan yang dulu menggoda kalian ilmunya hanya sebatas ilmu anak Sekolah Dasar, sekarang kemampuannya sekaliber universitas. Kemampuanya meningkat dengan  meningkatnya kemampuan kita. Al-Azhar berdiri sejak kalian belum berdiri, tapi setan  berdiri saat Al-Azhar belum berdiri. Perjalanan kalian akan semakin berat. Bertahanlah!”

Waktu itu adalah hari ujian untuk semester dua. Saya sedikit gugup. Tidak tahu harus menulis apa nanti di kertas jawaban.

Saya duduk melantai di balkon flat. Sambil memutar otak membayangkan macam-macam tidak lupa tangan terus menggenggam buku. Minggu depan ujian.

Tiba-tiba seseorang menghampiri saya. Teman saya satu angkatan tpi beda jurusan.
“Bagaimana persiapannya?” tanyanya.
“tidak tahu nih. Saya belum siap. Saya tidak taahu harus menulis apa nanti di lembar jawaban setebal itu.” Saya jawab.

Lalu dia bercerita,
“Kami datang berenam. Saat ujian masuk tahun lalu tidak ada satu pun dari kami yang lolos. Semuanya gagal. Kami sangat kecewa. Padahal itu sangat wajar untuk kami. Kami tidak belajar Bahasa Arab di sekolah. Bahkan tidak mengenal huruf alif pun. Tapi kegagalan itu pukulan terberat bagi kami. Kami kecewa lalu kami membuka buku kembali. Itulah kenapa kami disebut Arnavut pada saat ke-khalifahan Turki Ustsmani.  Kami selalu berjuang paling depan dan tidak pernah mau melihat kebelakang.”

Saya tidak tergugah sedikitpun. Malah saya semakin takut.
Bukan karena ceritanya kurang mengena.
Bukan karena ceritanya menyeramkan.

Tapi saya semakin gugup berteman dengan orang-orang sehebat mereka.
Saya takut tertinggal dengan mereka.
Tidak bisa mengimbangi  kepiawaian mereka.

Tapi apa yang terjadi. Setiap kali bertemu pasti mereka menanyai saya. persiapan saya.
Kalau pun tidak bertemu, telepon saya selalu bordering.
Kadang SMS. Kadang telepon.

Kadang juga mereka memberi tahu saya kenapa kita harus seperti ini.

Let the Brotherhood Wins!

Hari ini saya sudah melewati ujian itu dan lulus. Tapi saya teringat dua tahun lalu ketika baru menginjakan kaki disini.

Berangkat dari Indonesia dengan delapan orang lainnya. Teman-teman saya. teman-teman terbaik saya. namun saya kecewa. Sangat-sangat kecewa.

Kita lahir dari rahim ideology yang sama tapi seperti oran lain.
Kenal nama tapi tidak kenal pemilik nama.

Semuanya berlomba.
Padahal tidak ada gunanya lagi sekarang.
Apakah pengetahuan kami meningkat? Tidak!
Hanya ada tekan di otak.

Saat ujian pertama hanya satu dari kami yang lulus.
Tidak ada permisi, yang tersisa seperti disisihkan.
Sepertinya hanya dia yang boleh lulus.

Sekarang saya sadar.
Seharusnya prilaku kita pun harus naik kelas.
Ini bukan Sekolah Dasar Lagi yang “pokoknya harus aku yang rangking 1!”
Ini saatnya “ayo, kita sama-sama lulus. Sama mendapatkan nilai bagus. Sekarang rangking 1 boleh untuk sepuluh orang dalam satu kelas!”

Anda dan saya akan naik kelas bersama!!

More than knowledge, we have imagination
We see things more than what they are, but what they could be.
They cant find common sense in what we do. Of course they cant, faith defies common sense



Minggu, 15 Juli 2012

Matahari Terbenam di Albania [part 1]


Musim panas memebungkus Mesir. Panasnya sekarang lebih memanggang bumi. Angin tak nyaman lagi. Buah-buhan meranum melimpah ruah di sepanjang jalanan kota. Membanjiri kedai-kedai buah di sudut-sudut jalan.  Semuanya tumpah ruah di emperan-emperan jalan. Pertanda ini adalah puncak musim panas tahun ini.
Perjalanan Kairo-Alexandria akan terasa sangat jauh. Kereta terasa sangat lamban malas berjalan. Bunyi gesekan roda kereta berdenyit sesekali. Di sela-sela tempat duduk orang-orang memcari tempat senyaman mungkin. Berimpit-impitan  dengan penumpang lain. Entah karena mereka tidak membeli tiket atau memang  jatah kursi yang sedikit, yang jelas ada kekuatan yang mendorong mereka melakukannya.
Pemandangan di luar jendela menyita perhatianku. Pemandangan hijau membentang  sejauh pandangan mata. Rimbun penuh menutup celah-celah sungai. Nil membelah kerumunan pohon memanjang tak berujung. Tampaknya ia menjadi sumber kehidupan alam. Sangat kontras dengan Kairo  El-Azimah. Si ibu kota peradaban.
Terlintas sejenak perjalanan satu tahun silam. Aku mulai menerawang memutar kembali memori hari itu. Seorang lelaki berperawakan tinggi berbadan tegap dengan wajah khas Eropa mengawali ceritaku. Dia terburu-buru. wajahnya sedikit pucat tapi tidak pernah melepaskan senyum dari bibirnya.
Namanya Zayn Islami. Usianya seumuran denganku hanya saja badaku lebih kecil darinya. Bus besar yang mengantarkanku mengenalnya. Terbayang jelas apa yang aku lakukan di hari itu, hari aku begitu sangat bodoh.
Ketika aku duduk bersantai memulai perjanan pulangku dari kuliah. Seorang nenek tua memasuki bus. Tubuh besarnya  menaiki tangga dengan susah payah. Jatungnya berdetak dengan ritme yang salah. Jalannya gontai mulai mendekati tempat dudukku. Tiba-tiba laki-laki disamping jendela meraih tangan nenek tua itu, memberikan tempat duduk miliknya. Disampingku. “semoga, Allah melimpahkan kebaikan padamu wahai anakku”. Doa nenek tadi.  Lelaki itu melempar senyum padaku. Aku merunduk. Malu.
Ya. Lelaki itu adalah Zayn Islami. Zayn berasal dari kota Elbasan, sebuah kota diselatan Negara Albania. Albania adalah Negara dibagian tenggara  Eropa. Hampir seluruh penduduknya adalah muslim. Orang-orang menyebutnya, pintu islam menuju Eropa. Di tanah ini lah Syeikh Nasiruddin Albani, ulama hadits itu dilahirkan. Al-Azhar yang mengantarkannya ke Negri Para Nabi ini. Zayn sangat menghormati Syeikh Nasiruddin Albani tapi tak sejalan dengannya.
“Assalamulaikum Ahmet. Bisakah nanti sore datang kerumah untuk makan malam? Zayn”. Penggalan SMS itu membuat dahiku berkerut, “Darimana Zayn tahu nomorku?”.
***

Sabtu, 11 Februari 2012

Muhammad al-Mustafa

Kita akan menaiki sebuah kapal untuk pergi ke sebuah pulau yang jauh. Karena disana terdapt sejumlah kunci misteri alam. Tidakkah engkau melihat seluruh mata melihatnya guna menantikan informasi dan menerima perintah darinya. Nah, kini kita mulai melakukan perjalanan yang dimaksud. Kita telah sampai kepadanya dan menginjak pulau tersebut. Sekarang kita berada di hadapan kumpulan manusia yang sangat besar. seluruh pembesar kerajaan berkumpul disini. Wahai teman, lihatlah pemimpin pertemuan besar itu. Marilah kita sedikit menghampirinya guna lebih megetahui dari dekat. Ia menggunakan mendali istimewa yang jumlahnya lebih dari seribu. Ia mengeluarkan perkataan yang berhias kebaikan, keyakinan, dan ketenangan, karena aku telah mempelajari sebagian dari ucapannya selama lima belas hari yang lalu., maka aku akan mengajarkannya padamu. Ia berbicara tentang penguasa kerajaan ini, sang pemilik berbagai mukjizat. Ia berkata  bahwa sang penguasa itulah yang mengutusnya pada kalian. Lihatlah bagaimana ia memperlihatkan berbagai hal luarbiasa dan sejumlah mukjizat mencengangkan di mana tidak ada keraguan sedikitpun bahwaia merupakan utusan khusus penguasa.

Dengarkan baik-baik ucapan dan perkatannya, seluruh makhluk laksana telinga yang mendengarkan. Bahkan seluruh kerajaan memperhatikannya dimana semua berusaha untuk mendengar ucapannya yang baik serta bersemangat untuk melihat kehidupannya  yang cemerlang. Apakah menurutmu hanya manusia yang mendengarkannya? Tidak, hewan juga ikut mendengarkan. Bahkan gunung dan seluruh benda mendengarkan perintahnya serta takut sekaligus rindu kepadanya. Perhatikanlah bagaimana pepohonan tunduk pada petintahnya dan menuju ke tempat yang ia tunjukan. Ia memancarkan air kea rah yang ia kehendaki. Bahkan meski lewat jemarinya sehingga orang-orang bisa minun dari air yang memancar tersebut. Perhatikan lentera yang bergantung di atap kerajaan. Ia terbelah menjadi dua hanya dengan isyarat darinya.

Kerajaan ini beserta seluruh isinya mengenalnya dengan baik dan mengetahui bahwa ia merupakan pesuruh dan penyampai perintahnya yang amanah. Engkau bisa melihat bagaimana mereka tunduk laksana prajurit yang taat. Setiap orang berakal di sekitarnya pasti mengakui kalau ia merupakan utusan yang mulia seraya membenarkan dan mendengarkan ucapannya. Tidak itu saja. Bahkan gunung, lentera besar dan semua yang terdapat di dalam kerajaan membenarkannya. Lewat lisanul hal dengan penuh ketundukan semuanya berkata, “Ya, ya. Setiap ucapannya jujur, adil, dan benar.”

Wahai teman yang lalai, mungkinkah terdapat dusta dan kebohongan pada ucapan utusan yang mulia itu? Tentu hal itu tidak mungkin terjadi. Dialah sosok yang diutus penguasa dengan seribu mendali dan tanda. Semuanya merupakan alamat yang menunjukan kebenarannya. Seluruh pembesar kerajaan ikut membenarkannya. Semua ucapannya dat dipercaya dan mendatangkan ketenangan. Ia membahasa sifat-sifat penguasa yang mencengangkan berikut sejumlah perintahnya. Jika engkau merasa ada sejumlah kebohongan padanya, maka engakau harus mendustakan seluruh makhluk yang membenarkannya. Bahkan enkau harus mengingkari wujud istana dan lentera sekaligus mengingkari wujud segala sesuatu dan hakikatnya. Jika tidak, berikan argument yang kau miliki. Berbagai dalil siap menantangmu.

*Argumen kesebelas dalam kedudukan pertama pada kalimat kedua puluh dua karya Badiuzzaman  Said Nursi.

Catatan:
·         Kapal disini mengarah kepada sejarah, sementara pulaunya mengarah pada generasi terbaik. Yaitu generasi kenabian.
·         Mendali istimewa yang jumlahnya lebih dari seribu maksudnya adalah mukjizat yang diperlihatkan oleh Rasul  SAW. Seperti yang diakui oleh para ulama dan ahli hakikat.
·         Lentera yang bergantung diatap kerajaan maksudnya adalah bulan dan mukjizat terbelahnya bulan.
·    Lentera besar maksudnya adalah mentari yang kembali dari tempat terbenamnya untuk terbit hingga terlihat lagi.