Pages

WELCOME

Tanah Air Burung Elang

Minggu, 15 Juli 2012

Matahari Terbenam di Albania [part 1]

"
Musim panas memebungkus Mesir. Panasnya sekarang lebih memanggang bumi. Angin tak nyaman lagi. Buah-buhan meranum melimpah ruah di sepanjang jalanan kota. Membanjiri kedai-kedai buah di sudut-sudut jalan.  Semuanya tumpah ruah di emperan-emperan jalan. Pertanda ini adalah puncak musim panas tahun ini.
Perjalanan Kairo-Alexandria akan terasa sangat jauh. Kereta terasa sangat lamban malas berjalan. Bunyi gesekan roda kereta berdenyit sesekali. Di sela-sela tempat duduk orang-orang memcari tempat senyaman mungkin. Berimpit-impitan  dengan penumpang lain. Entah karena mereka tidak membeli tiket atau memang  jatah kursi yang sedikit, yang jelas ada kekuatan yang mendorong mereka melakukannya.
Pemandangan di luar jendela menyita perhatianku. Pemandangan hijau membentang  sejauh pandangan mata. Rimbun penuh menutup celah-celah sungai. Nil membelah kerumunan pohon memanjang tak berujung. Tampaknya ia menjadi sumber kehidupan alam. Sangat kontras dengan Kairo  El-Azimah. Si ibu kota peradaban.
Terlintas sejenak perjalanan satu tahun silam. Aku mulai menerawang memutar kembali memori hari itu. Seorang lelaki berperawakan tinggi berbadan tegap dengan wajah khas Eropa mengawali ceritaku. Dia terburu-buru. wajahnya sedikit pucat tapi tidak pernah melepaskan senyum dari bibirnya.
Namanya Zayn Islami. Usianya seumuran denganku hanya saja badaku lebih kecil darinya. Bus besar yang mengantarkanku mengenalnya. Terbayang jelas apa yang aku lakukan di hari itu, hari aku begitu sangat bodoh.
Ketika aku duduk bersantai memulai perjanan pulangku dari kuliah. Seorang nenek tua memasuki bus. Tubuh besarnya  menaiki tangga dengan susah payah. Jatungnya berdetak dengan ritme yang salah. Jalannya gontai mulai mendekati tempat dudukku. Tiba-tiba laki-laki disamping jendela meraih tangan nenek tua itu, memberikan tempat duduk miliknya. Disampingku. “semoga, Allah melimpahkan kebaikan padamu wahai anakku”. Doa nenek tadi.  Lelaki itu melempar senyum padaku. Aku merunduk. Malu.
Ya. Lelaki itu adalah Zayn Islami. Zayn berasal dari kota Elbasan, sebuah kota diselatan Negara Albania. Albania adalah Negara dibagian tenggara  Eropa. Hampir seluruh penduduknya adalah muslim. Orang-orang menyebutnya, pintu islam menuju Eropa. Di tanah ini lah Syeikh Nasiruddin Albani, ulama hadits itu dilahirkan. Al-Azhar yang mengantarkannya ke Negri Para Nabi ini. Zayn sangat menghormati Syeikh Nasiruddin Albani tapi tak sejalan dengannya.
“Assalamulaikum Ahmet. Bisakah nanti sore datang kerumah untuk makan malam? Zayn”. Penggalan SMS itu membuat dahiku berkerut, “Darimana Zayn tahu nomorku?”.
***
"

Musim panas memebungkus Mesir. Panasnya sekarang lebih memanggang bumi. Angin tak nyaman lagi. Buah-buhan meranum melimpah ruah di sepanjang jalanan kota. Membanjiri kedai-kedai buah di sudut-sudut jalan.  Semuanya tumpah ruah di emperan-emperan jalan. Pertanda ini adalah puncak musim panas tahun ini.
Perjalanan Kairo-Alexandria akan terasa sangat jauh. Kereta terasa sangat lamban malas berjalan. Bunyi gesekan roda kereta berdenyit sesekali. Di sela-sela tempat duduk orang-orang memcari tempat senyaman mungkin. Berimpit-impitan  dengan penumpang lain. Entah karena mereka tidak membeli tiket atau memang  jatah kursi yang sedikit, yang jelas ada kekuatan yang mendorong mereka melakukannya.
Pemandangan di luar jendela menyita perhatianku. Pemandangan hijau membentang  sejauh pandangan mata. Rimbun penuh menutup celah-celah sungai. Nil membelah kerumunan pohon memanjang tak berujung. Tampaknya ia menjadi sumber kehidupan alam. Sangat kontras dengan Kairo  El-Azimah. Si ibu kota peradaban.
Terlintas sejenak perjalanan satu tahun silam. Aku mulai menerawang memutar kembali memori hari itu. Seorang lelaki berperawakan tinggi berbadan tegap dengan wajah khas Eropa mengawali ceritaku. Dia terburu-buru. wajahnya sedikit pucat tapi tidak pernah melepaskan senyum dari bibirnya.
Namanya Zayn Islami. Usianya seumuran denganku hanya saja badaku lebih kecil darinya. Bus besar yang mengantarkanku mengenalnya. Terbayang jelas apa yang aku lakukan di hari itu, hari aku begitu sangat bodoh.
Ketika aku duduk bersantai memulai perjanan pulangku dari kuliah. Seorang nenek tua memasuki bus. Tubuh besarnya  menaiki tangga dengan susah payah. Jatungnya berdetak dengan ritme yang salah. Jalannya gontai mulai mendekati tempat dudukku. Tiba-tiba laki-laki disamping jendela meraih tangan nenek tua itu, memberikan tempat duduk miliknya. Disampingku. “semoga, Allah melimpahkan kebaikan padamu wahai anakku”. Doa nenek tadi.  Lelaki itu melempar senyum padaku. Aku merunduk. Malu.
Ya. Lelaki itu adalah Zayn Islami. Zayn berasal dari kota Elbasan, sebuah kota diselatan Negara Albania. Albania adalah Negara dibagian tenggara  Eropa. Hampir seluruh penduduknya adalah muslim. Orang-orang menyebutnya, pintu islam menuju Eropa. Di tanah ini lah Syeikh Nasiruddin Albani, ulama hadits itu dilahirkan. Al-Azhar yang mengantarkannya ke Negri Para Nabi ini. Zayn sangat menghormati Syeikh Nasiruddin Albani tapi tak sejalan dengannya.
“Assalamulaikum Ahmet. Bisakah nanti sore datang kerumah untuk makan malam? Zayn”. Penggalan SMS itu membuat dahiku berkerut, “Darimana Zayn tahu nomorku?”.
***

0 komentar:

Posting Komentar