Matahari Terbenam di Albania [part 1]
"
Musim panas memebungkus Mesir.
Panasnya sekarang lebih memanggang bumi. Angin tak nyaman lagi. Buah-buhan
meranum melimpah ruah di sepanjang jalanan kota. Membanjiri kedai-kedai buah di
sudut-sudut jalan. Semuanya tumpah ruah
di emperan-emperan jalan. Pertanda ini adalah puncak musim panas tahun ini.
Perjalanan Kairo-Alexandria akan
terasa sangat jauh. Kereta terasa sangat lamban malas berjalan. Bunyi gesekan
roda kereta berdenyit sesekali. Di sela-sela tempat duduk orang-orang memcari
tempat senyaman mungkin. Berimpit-impitan dengan penumpang lain. Entah karena mereka
tidak membeli tiket atau memang jatah
kursi yang sedikit, yang jelas ada kekuatan yang mendorong mereka melakukannya.
Pemandangan di luar jendela menyita
perhatianku. Pemandangan hijau membentang
sejauh pandangan mata. Rimbun penuh menutup celah-celah sungai. Nil
membelah kerumunan pohon memanjang tak berujung. Tampaknya ia menjadi sumber
kehidupan alam. Sangat kontras dengan Kairo
El-Azimah. Si ibu kota peradaban.
Terlintas sejenak perjalanan satu
tahun silam. Aku mulai menerawang memutar kembali memori hari itu. Seorang
lelaki berperawakan tinggi berbadan tegap dengan wajah khas Eropa mengawali
ceritaku. Dia terburu-buru. wajahnya sedikit pucat tapi tidak pernah melepaskan
senyum dari bibirnya.
Namanya Zayn Islami. Usianya
seumuran denganku hanya saja badaku lebih kecil darinya. Bus besar yang
mengantarkanku mengenalnya. Terbayang jelas apa yang aku lakukan di hari itu,
hari aku begitu sangat bodoh.
Ketika aku duduk bersantai
memulai perjanan pulangku dari kuliah. Seorang nenek tua memasuki bus. Tubuh
besarnya menaiki tangga dengan susah
payah. Jatungnya berdetak dengan ritme yang salah. Jalannya gontai mulai
mendekati tempat dudukku. Tiba-tiba laki-laki disamping jendela meraih tangan
nenek tua itu, memberikan tempat duduk miliknya. Disampingku. “semoga, Allah
melimpahkan kebaikan padamu wahai anakku”. Doa nenek tadi. Lelaki itu melempar senyum padaku. Aku
merunduk. Malu.
Ya. Lelaki itu adalah Zayn Islami.
Zayn berasal dari kota Elbasan, sebuah kota diselatan Negara Albania. Albania adalah
Negara dibagian tenggara Eropa. Hampir
seluruh penduduknya adalah muslim. Orang-orang menyebutnya, pintu islam
menuju Eropa. Di tanah ini lah Syeikh Nasiruddin Albani, ulama hadits itu
dilahirkan. Al-Azhar yang mengantarkannya ke Negri Para Nabi ini. Zayn sangat
menghormati Syeikh Nasiruddin Albani tapi tak sejalan dengannya.
“Assalamulaikum Ahmet. Bisakah
nanti sore datang kerumah untuk makan malam? Zayn”. Penggalan SMS itu membuat
dahiku berkerut, “Darimana Zayn tahu nomorku?”.
***
"
Musim panas memebungkus Mesir.
Panasnya sekarang lebih memanggang bumi. Angin tak nyaman lagi. Buah-buhan
meranum melimpah ruah di sepanjang jalanan kota. Membanjiri kedai-kedai buah di
sudut-sudut jalan. Semuanya tumpah ruah
di emperan-emperan jalan. Pertanda ini adalah puncak musim panas tahun ini.
Perjalanan Kairo-Alexandria akan
terasa sangat jauh. Kereta terasa sangat lamban malas berjalan. Bunyi gesekan
roda kereta berdenyit sesekali. Di sela-sela tempat duduk orang-orang memcari
tempat senyaman mungkin. Berimpit-impitan dengan penumpang lain. Entah karena mereka
tidak membeli tiket atau memang jatah
kursi yang sedikit, yang jelas ada kekuatan yang mendorong mereka melakukannya.
Pemandangan di luar jendela menyita
perhatianku. Pemandangan hijau membentang
sejauh pandangan mata. Rimbun penuh menutup celah-celah sungai. Nil
membelah kerumunan pohon memanjang tak berujung. Tampaknya ia menjadi sumber
kehidupan alam. Sangat kontras dengan Kairo
El-Azimah. Si ibu kota peradaban.
Terlintas sejenak perjalanan satu
tahun silam. Aku mulai menerawang memutar kembali memori hari itu. Seorang
lelaki berperawakan tinggi berbadan tegap dengan wajah khas Eropa mengawali
ceritaku. Dia terburu-buru. wajahnya sedikit pucat tapi tidak pernah melepaskan
senyum dari bibirnya.
Namanya Zayn Islami. Usianya
seumuran denganku hanya saja badaku lebih kecil darinya. Bus besar yang
mengantarkanku mengenalnya. Terbayang jelas apa yang aku lakukan di hari itu,
hari aku begitu sangat bodoh.
Ketika aku duduk bersantai
memulai perjanan pulangku dari kuliah. Seorang nenek tua memasuki bus. Tubuh
besarnya menaiki tangga dengan susah
payah. Jatungnya berdetak dengan ritme yang salah. Jalannya gontai mulai
mendekati tempat dudukku. Tiba-tiba laki-laki disamping jendela meraih tangan
nenek tua itu, memberikan tempat duduk miliknya. Disampingku. “semoga, Allah
melimpahkan kebaikan padamu wahai anakku”. Doa nenek tadi. Lelaki itu melempar senyum padaku. Aku
merunduk. Malu.
Ya. Lelaki itu adalah Zayn Islami.
Zayn berasal dari kota Elbasan, sebuah kota diselatan Negara Albania. Albania adalah
Negara dibagian tenggara Eropa. Hampir
seluruh penduduknya adalah muslim. Orang-orang menyebutnya, pintu islam
menuju Eropa. Di tanah ini lah Syeikh Nasiruddin Albani, ulama hadits itu
dilahirkan. Al-Azhar yang mengantarkannya ke Negri Para Nabi ini. Zayn sangat
menghormati Syeikh Nasiruddin Albani tapi tak sejalan dengannya.
“Assalamulaikum Ahmet. Bisakah
nanti sore datang kerumah untuk makan malam? Zayn”. Penggalan SMS itu membuat
dahiku berkerut, “Darimana Zayn tahu nomorku?”.
***

0 komentar:
Posting Komentar