
Seseorang pernah
berkata pada saya,
“Ada
kalimat menarik ketika saya baru tiba di Mesir untuk melanjutkan studi S1 saya.
katanya, selamat untuk kalian telah sampai di jenjang ini. Tapi jangan senang
dulu, ada yang ikut bersama kalian. Wujudnya halus tidak terlihat tapi kerjanya
nyata tidak diragukan. Dia adalah setan. Setan yang dulu bersama kalian sejak
Sekolah Dasar sekarang sudah naik tingkat ke jenjang Universitas. Setan yang
dulu menggoda kalian ilmunya hanya sebatas ilmu anak Sekolah Dasar, sekarang
kemampuannya sekaliber universitas. Kemampuanya meningkat dengan meningkatnya kemampuan kita. Al-Azhar berdiri
sejak kalian belum berdiri, tapi setan
berdiri saat Al-Azhar belum berdiri. Perjalanan kalian akan semakin
berat. Bertahanlah!”
Waktu itu
adalah hari ujian untuk semester dua. Saya sedikit gugup. Tidak tahu harus
menulis apa nanti di kertas jawaban.
Saya duduk
melantai di balkon flat. Sambil memutar otak membayangkan macam-macam tidak
lupa tangan terus menggenggam buku. Minggu depan ujian.
Tiba-tiba
seseorang menghampiri saya. Teman saya satu angkatan tpi beda jurusan.
“Bagaimana
persiapannya?” tanyanya.
“tidak tahu
nih. Saya belum siap. Saya tidak taahu harus menulis apa nanti di lembar
jawaban setebal itu.” Saya jawab.
Lalu dia
bercerita,
“Kami datang
berenam. Saat ujian masuk tahun lalu tidak ada satu pun dari kami yang lolos. Semuanya
gagal. Kami sangat kecewa. Padahal itu sangat wajar untuk kami. Kami tidak
belajar Bahasa Arab di sekolah. Bahkan tidak mengenal huruf alif pun. Tapi kegagalan
itu pukulan terberat bagi kami. Kami kecewa lalu kami membuka buku kembali. Itulah
kenapa kami disebut Arnavut pada saat ke-khalifahan Turki Ustsmani. Kami selalu berjuang paling depan dan tidak
pernah mau melihat kebelakang.”
Saya tidak
tergugah sedikitpun. Malah saya semakin takut.
Bukan karena
ceritanya kurang mengena.
Bukan karena
ceritanya menyeramkan.
Tapi saya
semakin gugup berteman dengan orang-orang sehebat mereka.
Saya takut
tertinggal dengan mereka.
Tidak bisa
mengimbangi kepiawaian mereka.
Tapi apa
yang terjadi. Setiap kali bertemu pasti mereka menanyai saya. persiapan saya.
Kalau pun
tidak bertemu, telepon saya selalu bordering.
Kadang SMS. Kadang
telepon.
Kadang juga
mereka memberi tahu saya kenapa kita harus seperti ini.
Let the
Brotherhood Wins!
Hari ini
saya sudah melewati ujian itu dan lulus. Tapi saya teringat dua tahun lalu
ketika baru menginjakan kaki disini.
Berangkat dari
Indonesia dengan delapan orang lainnya. Teman-teman saya. teman-teman terbaik
saya. namun saya kecewa. Sangat-sangat kecewa.
Kita lahir
dari rahim ideology yang sama tapi seperti oran lain.
Kenal nama
tapi tidak kenal pemilik nama.
Semuanya berlomba.
Padahal
tidak ada gunanya lagi sekarang.
Apakah pengetahuan
kami meningkat? Tidak!
Hanya ada
tekan di otak.
Saat ujian
pertama hanya satu dari kami yang lulus.
Tidak ada
permisi, yang tersisa seperti disisihkan.
Sepertinya hanya
dia yang boleh lulus.
Sekarang saya
sadar.
Seharusnya prilaku
kita pun harus naik kelas.
Ini bukan Sekolah
Dasar Lagi yang “pokoknya harus aku yang rangking 1!”
Ini saatnya “ayo,
kita sama-sama lulus. Sama mendapatkan nilai bagus. Sekarang rangking 1 boleh
untuk sepuluh orang dalam satu kelas!”
Anda dan saya
akan naik kelas bersama!!
More than knowledge, we have imagination
We see things more than what they are, but what they could be.
They cant find common sense in what we do. Of course they cant, faith defies
common sense