Pages

WELCOME

Tanah Air Burung Elang

Jumat, 02 September 2011

Catatan Ramadhan: Lebaran with Tea Party ala Turkey


Di Mesir ane tinggal di asrama milik yayasan dari Turki yang katanya masih ada hubungan dengan Mohammed Fethullah Gülen. Siapa Mohammed Fethullah Gülen?

Mohammed Fethullah Gülen adalah pengkhotbah Turki, penulis, pendidik, dan sarjana Muslim yang hidup di pengasingan di Pennsylvania (AS). Dia adalah pendiri dan pemimpin gerakan Gulen . Gulen ditandai di media sebagai salah satu tokoh paling penting di dunia Muslim. (sumber: wikipedia)

Karena milik yayasan dari Turki beberapa kegiatan memakai kebiasaan-kebisan dari Turki. Seperti perayaan maulid Nabi dan perayaan tahun baru islam 1 Muharram dilakukan sebagaimana mereka merayakannya di Turki. Juga dengan makanan yang dihidangakan sama seperti apa yang mereka makan di Turki. Ane tahu dari teman (orang Indonesia) satu asrama yang bulan Ramadhan kemaren pergi ke Turki. Ya, walaupun belum pernah pernah pergi ke Turki tapi minimal ane sudah tahu kebiasaan-kebiasan dan jenis-jenis makanan mereka.

Beruntung ane bisa tinggal disini. Karena kebanyakan yang tinggal disini adalah lulusan sekolah Turki di negaranya masing-masing. Makanya yang berasal dari sekolah Turki semuanya mampu berbahasa Turki dengan baik. kalau ane boro-boro bisa bahasa Turki, mendengar mereka bicara saja seperti ada di planet antah berantah. Tapi alhadulillah setelah tinggal disini, sekarang sudah sedikit mengerti.

Satu hari sebelum hari raya ada sebuah pengumuman yang di tempel menggunakan bahasa Turki. Yang kurang lebih isinya mengumumkan akan ada acara pada hari kedua di bulan Syawal selepas shalat Ashar di Salahuddin International School Turkey.

Sapai di Salahuddin International School Turkey suasana masih belum ramai. Kemudian beberapa orang mencoba bermain futsal dan voley ball sampai mangrib menjelang. Selesai shalat magrib, panitia mengajak kami untuk berkumpul di samping lapangan. beberapa orang terlihat sibuk membawa gelas-gelas panas berisi teh. Setelah semuanya berkumpul, beberapa dari kami mencoba memualainya dengan melempar candaan dan percakapan. The party selesai sekitar pukul delapan malam.

Selesai teh party kami diajak ke gedung pertemuan yang jaraknya tidak begitu jauh. Gedung itu biasanya mereka gunakan untuk perayaan hari-hari besar. Tampak gedung sudah dipersiapkan. Telihat persiapan tidak muluk-muluk, hanya ada sebuah meja plus kursi yang di tempatkan di bawah untuk pembicara. Setelah pembacaan ayat suci Al-quran, MC mempersilahkan seorang yang terlihat sangat dihormati utnuk menyampaikan cermah.

Acara berlangsung sangat khidmat sampai pukul 21.00. Acara selesai dan kami kembali ke asrama.  (ahmet)

Kamis, 01 September 2011

Not good People

Setelah sarapan diundur dari jam 7 pagi ke jam 03 pagi (sahur) karena bulan ramadhan, akhirnya di hari ke dua di bulan syawal ini ane bisa kembali merasakannya di asrama. Dikarenakan juga deadline Buletin Manggala mepet dengan Hari Raya Iedul Fitri, kurang lebih satu minggu kebelakang ane harus tinggal sementara di rumah teman di daerah musallas, Hay ‘Asyir, untuk merapungkan proyek akhirat itu. Berarti mau tidak mau ane harus merepotkan teman-temen di musallas (uhibukum fillah, terimakasih atas kehangatan dan kebaikan kalian. :D ). dan merayakan iedul fitri di Hay ‘asyir.

Satu minggu setelah ditinggalkan, asrama terlihat lebih sepi. Selain karena mahasiswa-mahasiswa yang tinggal disini pulang liburan summer dan karena tamu-tamu dari Eropa yang sengaja datang untuk mengabiskan summer mereka dengan belejar bahasa arab juga sudah kembali ke negara masing-masing karena summer sudah hampir selesai dan juga karena iedul fitri. Sayangnya ane tidak sempat mengucapkan selamat jalan pada mereka. Untuk: Ali zeyd (Turki), Barkhan (Turki), Sefa (Turki), Furqon (Inggris), Usamah (Nigeria), dan Hamzah (Norwegia) selamat jalan, sampai bertemu kembali (Gorusmek uzere, see you soon) .

Ane banyak belajar dari mahasiswa-mahasiswa yang tinggal disini. Selain belajar bahasa mereka ane juga belajar menyesuaikan dengan kebiasaan-kebiasaan mereka. Seperti sarapan ala Eropa dengan menu kentang goreng, roti, selai, telur, dan segelas teh. Makan siang dengan sup (lebih mirip bubur kalau di Indonesia). Dan makan malam yang jarang menyediakan nasi (tapi kenyang).

Pagi tadi, kamis (1/9) ada kejadian menarik setelah sarapan. Yang biasanya sarapan sudah bisa dinikmati pukul 7 pagi tepat, tapi pagi tadi sarapan baru bisa dinikmati pukul 9 pagi. Ngaret 2 jam dari biasanya. Mungkin karena masih suasana iedul fitri jadi beberapa pegawai dapur ada yang pulang kapung sehingga para tukang masak kekurangan tenaga.

Pagi itu ruang makan terlihat sangat sepi. Yang biasanya sudah ramai dengan mahasiswa yang berasal dari Kirgyztan karena mereka tidak pulang liburan summer, pagi itu yang terlihat lebih banyak Abi ( kakak/saudara yang lebih tua dalam bahasa turki). Tapi ada satu orang yang belum ane liat sebelumnya.

Setelah mengambil makan, ane coba untuk duduk disampingnya. Namanya Muhammad datang ke Mesir sekitar tiga hari yang lalu. Dia aslinya orang Sri Langka tapi katanya sudah tinggal di Inggris selama 4 tahun untuk melanjutkan study di fakultas kedokteran. Sudah pasti bahasa inggrisnya jago, tapi dia mencoba memakai bahasa arab selama percakapan dan kadang-kadang dia memakai bahasa inggris. Selama di Mesir dia belajar di lembaga kursus bahasa arab Niel Center untuk melanjukan pelajarannya yang tahun lalu sempat tertunda karena terpotong dengan selesainya liburan summer.

Selesai kami menyantap sarapan, tiba-tiba dia mengatakan dalam bahasa inggris kalau orang mesir tidak baik. Kami yang duduk disampingnya sedikit heran. Dari mana dia mengambil kesimpulan seperti itu. Ternyata tadi yang makan di depannya adalah orang mesir yang bekas makannya tidak di kembalikan ke dapur. Karena kami tahu banyak ulama dan muhsinin disini. Sedikit ada perdebatan kecil. Dan akhirnya di menyimpulkan hanya sebagian orang mesir yang tidak baik.

Dari kejadian diatas ane banyak mengambil pelajaran dari berbagai sisi. Belajar dari tindakan orang Mesir yang makannya sedikit tidak rapih. Dari Muhammad yang membuat saya berfikir ternyata sikap kita sangat diperhatikan. (ahmet)

Catatan Ramadhan : Bukan ‘Ied Mubarak, tapi ‘ied saed.

Lebaran tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Kalau tahun kemarin ane masih bisa sungkem sama ibu dan bapak, sekarang hanya bisa mengucapkannya di ujung telepon. Teman-teman di Facebook dan Twitter juga banyak yang menanyakan bagaimana lebaran di negri orang yang jauh dari orang tua. Terbayang wajah-wajah teduh mereka berdua, terakhir melihatnya adalah ketika mengantar sampai Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta 10 bulan yang lalu. Selama ini kami berkomunikasi hanya melalui telepon dan SMS.

Merayakan lebaran di Mesir tentulah sangat berbeda. selain dari lingkungan juga dari segi adat. Mesir mempunyai caranya sendiri untuk merayakan hari iednya.

Malam takbiran yang sangat ditunggu-tunggu meriah dengan suara gaduh bedug diiringi takbir, tahmid dan tahlil juga dengan pawai keliling sama sekali tidak terdengar seperti halnya di Indonesia. Takbir terdengar ketika selesai melaksanakan shalat subuh tapi tidak lama.

Nuansa lebaran dimana-mana sama tapi di kota saya tinggal agak sepi, mungkin karena orang-orang lebih memilih lebaran di desa masing-masing.

Ada pengalaman menarik, karena tahun ini adalah tahun pertama kami melaksanakan ied fitri di Mesir. kemarin ane dan temam-teman satu rumah sudah mendengar kabar kalau orang-orang Indonesia akan melaksanakan shalat ied di masjid Assalam (bentuknya hampir mirip dengan masjid sakhro di dekat masjid alaqso di Palestina) pukul 7 pagi bergantian dengan orang Mesir yang biasanya melaksanakan shalat ied jam 6 pagi. Tapi selepas shalat subuh tadi seorang teman mengatakan kalau shalat untuk orang Indonesia akan di mulai jam 9 pagi. Maka, kami sedikit bersantai. Tapi ternyata shalat ied untuk orang Indonesia dilaksanakan pukul 7.30.

Berbeda buat ane, berbeda juga buat Mesir. Ada anekdot yang mengatakan, Bukan ‘Ied Mubarak, tapi ‘ied saed. Kenapa?

Rezim kekuasaan Mubarak yang berkuasa kurang lebih 30 tahun denga segala ke zalimannya, rupanya bener-bener membuat orang-orang Mesir marah. Bahakan mendengar nama matan penguasa itu saja malas. Sampai ada cerita, teman ane yang kebetulan namanya mubarak sampe ditanya, apa?! Mubarak?! Dia di penjara!!.


Atau waktu ane tanya sama orang mesir, ied mubarak eu ied saed? dia jawab, tsani! (yang kedua!)
Jadi, Bukan ‘Ied Mubarak, tapi ‘ied saed.:D (ahmet)