Catatan Ramadhan : Bukan ‘Ied Mubarak, tapi ‘ied saed.
"
"
Lebaran tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Kalau tahun kemarin ane masih bisa sungkem sama ibu dan bapak, sekarang hanya bisa mengucapkannya di ujung telepon. Teman-teman di Facebook dan Twitter juga banyak yang menanyakan bagaimana lebaran di negri orang yang jauh dari orang tua. Terbayang wajah-wajah teduh mereka berdua, terakhir melihatnya adalah ketika mengantar sampai Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta 10 bulan yang lalu. Selama ini kami berkomunikasi hanya melalui telepon dan SMS.
Merayakan lebaran di Mesir tentulah sangat berbeda. selain dari lingkungan juga dari segi adat. Mesir mempunyai caranya sendiri untuk merayakan hari iednya.
Malam takbiran yang sangat ditunggu-tunggu meriah dengan suara gaduh bedug diiringi takbir, tahmid dan tahlil juga dengan pawai keliling sama sekali tidak terdengar seperti halnya di Indonesia. Takbir terdengar ketika selesai melaksanakan shalat subuh tapi tidak lama.
Nuansa lebaran dimana-mana sama tapi di kota saya tinggal agak sepi, mungkin karena orang-orang lebih memilih lebaran di desa masing-masing.
Ada pengalaman menarik, karena tahun ini adalah tahun pertama kami melaksanakan ied fitri di Mesir. kemarin ane dan temam-teman satu rumah sudah mendengar kabar kalau orang-orang Indonesia akan melaksanakan shalat ied di masjid Assalam (bentuknya hampir mirip dengan masjid sakhro di dekat masjid alaqso di Palestina) pukul 7 pagi bergantian dengan orang Mesir yang biasanya melaksanakan shalat ied jam 6 pagi. Tapi selepas shalat subuh tadi seorang teman mengatakan kalau shalat untuk orang Indonesia akan di mulai jam 9 pagi. Maka, kami sedikit bersantai. Tapi ternyata shalat ied untuk orang Indonesia dilaksanakan pukul 7.30.
Berbeda buat ane, berbeda juga buat Mesir. Ada anekdot yang mengatakan, Bukan ‘Ied Mubarak, tapi ‘ied saed. Kenapa?
Rezim kekuasaan Mubarak yang berkuasa kurang lebih 30 tahun denga segala ke zalimannya, rupanya bener-bener membuat orang-orang Mesir marah. Bahakan mendengar nama matan penguasa itu saja malas. Sampai ada cerita, teman ane yang kebetulan namanya mubarak sampe ditanya, apa?! Mubarak?! Dia di penjara!!.
Atau waktu ane tanya sama orang mesir, ied mubarak eu ied saed? dia jawab, tsani! (yang kedua!)
Atau waktu ane tanya sama orang mesir, ied mubarak eu ied saed? dia jawab, tsani! (yang kedua!)
Jadi, Bukan ‘Ied Mubarak, tapi ‘ied saed.:D (ahmet)
Lebaran tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Kalau tahun kemarin ane masih bisa sungkem sama ibu dan bapak, sekarang hanya bisa mengucapkannya di ujung telepon. Teman-teman di Facebook dan Twitter juga banyak yang menanyakan bagaimana lebaran di negri orang yang jauh dari orang tua. Terbayang wajah-wajah teduh mereka berdua, terakhir melihatnya adalah ketika mengantar sampai Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta 10 bulan yang lalu. Selama ini kami berkomunikasi hanya melalui telepon dan SMS.
Merayakan lebaran di Mesir tentulah sangat berbeda. selain dari lingkungan juga dari segi adat. Mesir mempunyai caranya sendiri untuk merayakan hari iednya.
Malam takbiran yang sangat ditunggu-tunggu meriah dengan suara gaduh bedug diiringi takbir, tahmid dan tahlil juga dengan pawai keliling sama sekali tidak terdengar seperti halnya di Indonesia. Takbir terdengar ketika selesai melaksanakan shalat subuh tapi tidak lama.
Nuansa lebaran dimana-mana sama tapi di kota saya tinggal agak sepi, mungkin karena orang-orang lebih memilih lebaran di desa masing-masing.
Ada pengalaman menarik, karena tahun ini adalah tahun pertama kami melaksanakan ied fitri di Mesir. kemarin ane dan temam-teman satu rumah sudah mendengar kabar kalau orang-orang Indonesia akan melaksanakan shalat ied di masjid Assalam (bentuknya hampir mirip dengan masjid sakhro di dekat masjid alaqso di Palestina) pukul 7 pagi bergantian dengan orang Mesir yang biasanya melaksanakan shalat ied jam 6 pagi. Tapi selepas shalat subuh tadi seorang teman mengatakan kalau shalat untuk orang Indonesia akan di mulai jam 9 pagi. Maka, kami sedikit bersantai. Tapi ternyata shalat ied untuk orang Indonesia dilaksanakan pukul 7.30.
Berbeda buat ane, berbeda juga buat Mesir. Ada anekdot yang mengatakan, Bukan ‘Ied Mubarak, tapi ‘ied saed. Kenapa?
Rezim kekuasaan Mubarak yang berkuasa kurang lebih 30 tahun denga segala ke zalimannya, rupanya bener-bener membuat orang-orang Mesir marah. Bahakan mendengar nama matan penguasa itu saja malas. Sampai ada cerita, teman ane yang kebetulan namanya mubarak sampe ditanya, apa?! Mubarak?! Dia di penjara!!.
Atau waktu ane tanya sama orang mesir, ied mubarak eu ied saed? dia jawab, tsani! (yang kedua!)
Atau waktu ane tanya sama orang mesir, ied mubarak eu ied saed? dia jawab, tsani! (yang kedua!)
Jadi, Bukan ‘Ied Mubarak, tapi ‘ied saed.:D (ahmet)

0 komentar:
Posting Komentar